Tampilkan postingan dengan label artikel Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel Korea. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

MUSLIM KOREA

Komunitas Muslim di Korea Selatan adalah komunitas yang kaya dengan keberagaman latar belakang etnis dan budaya. Komunitas Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha ini, kebanyakan adalah para pekerja asing dan imigran dari berbagai negara Muslim, terutama dari kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Sementara orang-orang asli Korea yang Muslim, kebanyakan adalah keturunan dari para mualaf yang masuk Islam saat berlangsung Perang Korea. "Di sini adalah beberapa orang Korea. Yang lainnya berasal dari Indonesia, Malaysia dan Uzbek. Ada juga beberapa Muslim asal AS. Muslim disini sedikitnya berasal dari 12 sampai 14 negara di dunia," kata Haseeb Ahmad Khan, pengusaha asal Pakistan yang sudah 10 tahun tinggal di Korea Selatan.

Menurut Haseeb, jumlah Muslim di Korea Selatan terus bertambah, terutama di kota besar seperti Busan. Muslim di kota ini sudah membuka sekolah Islam sendiri. "Meski sekolahnya kecil, cukup untuk mengakomodasi anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang Islami," ujar Haseeb.

Data dari Korea Muslim Federation (KMF) yang didirikan sejak tahun 1967 menyebutkan, jumlah Muslim di Korea Selatan sekarang ini mencapai 120.000-130.000 orang, terdiri dari Muslim Korea asli dan para warga negara asing. Jumlah orang Korea asli yang Muslim sekitar 45.000 orang, selebihnya didominasi pekerja migran asal Pakistan dan Bangladesh.

Sebagai kelompok masyarakat minoritas, masjid menjadi tempat penting bagi Muslim Korea Selatan untuk saling bertemu dan bersilahturahim. Sepuluh tahun yang lalu, belum banyak masjid di negara ini. Tapi sekarang, masjid-masjid sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota besar di Korea Selatan. Masjid terbesar adalah Masjid Sentral Seoul yang berlokasi di distrik Itaewon.

"Kami punya lebih dari 10 masjid di kota-kota besar seperti Gwangju, Busan dan Daegu. Masjid di sini bukan sekedar tempat salat tapi juga tempat berkumpul komunitas Muslim, terutama usai salat Jumat. Mereka saling bercerita dan mendengarkan satu sama lain," imbuh Haseeb.

"Contohnya, jika ada jamaah yang sakit, mereka bersama-sama datang menjenguk ke rumah sakit. Atau, jika ada yang butuh pertolongan, mereka akan mencari cara untuk bisa memberikan bantuan," sambung Haseeb.

Masjid juga menjadi pusat informasi bagi warga Korea yang ingin belajar Islam. Masjid-masjid di Korea Selatan menyediakan bahan-bahan bacaan dan audio yang diberikan gratis buat mereka yang ingin mempelajari Islam.

Sekolah Islam pertama di Korea Selatan rencananya akan dibuka bulan Maret ini. Sekolah itu dibiayai lewat dana hibah dari pemerintah Arab Saudi. Tahun 2008 lalu, Duta Besar Saudi di Seoul sudah menyerahkan dana sebesar 500.000 dollar pada KMF untuk biaya pembangunan sekolah.

Sebagai penghargaan atas bantuan Saudi, sekolah tersebut rencananya akan menggunakan nama putera mahkota Saudi Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz. Sekolah ini juga akan menerima siswa non-Muslim. Selain memberikan mata pelajaran berdasarkan kurikulum pendidikan di Korea, sekolah yang dibiayai Saudi ini juga akan memberikan pelajaran tambahan berupa bahasa Arab, bahasa Inggris dan studi Islam.

Selain sekolah Islam, sejak tahun 2008 lalu, juga dibangun pusat kebudayaan Islam di kota Seoul. Dengan adanya sekolah dan pusat kebudayaan Islam ini, diharapkan bisa memperluas syiar Islam di Korea Selatan sekaligus meluruskan informasi-informasi bias tentang Islam dan Muslim yang diterima oleh masyarakat negeri itu.

Sabtu, 06 Maret 2010

" Pendidikan di Korea Selatan "



Nih cerita yang saya ambil dari Forum pendidikan yang menceritakan tentang pendidikan SMK di Korea Selatan yang ternyata sangat baik daripada pendidikan di Negara Indonesia ini.
Seperti ini cerita nya. Selama 5 hari kami berada di negara Korea Selatan, ada beberapa yang menjadi kenangan indah yang tidak kami lupakan :
1. Orang korea selalu sehat dan awet muda, sebeb meraka menghindari makanan yang mengadung kolesterol dan jarang sekali menggunakan gula sebagai pemanis
2. Cinta produksi dalam negeri, selama disana jarang sekali atau hampir tidak ada mobil buatan jepang berseliweran yang ada smuanya produk dalam negeri sendiri.

Sampai hal yang terkecil mereka bangga dengan produksi merekan sendiri
3. Untuk ICT (ini yang membanggakan) :
a. Setiap 1 km di jalan raya terpasang CCTV dan dikendalikan oleh perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. Tugas polisi sangat minim sekali, bila ada pelanggaran langsung terlihat karena setiap mobil ada identitas tersendiri dan didenda pada saat sampai dirumah
b. Tidak ada sim card seperti layaknya di Indonesia, teknologi yang mereka gunakan adalah CDMA
c. Identitas semua penduduk terdata dalam suatu server, sehingga penduduk tidak perlu ganti ktp atau apapun juga, karena data smua tentang mereka sudah ada
d. Pokoknya semua kehidupan berbasis IT
4. Sekolah (SMK) kami mengunjungi 4 sekolah yang berbasis SMK, dengan gambaran yang sama :
a. Porsi untuk kurikulum 50 % budi perkerti, 44% Materi Produktif, 6 % ekstra ko kurikuler
b. Peran swasta sangat menunjang, seperti contoh beberapa perusahaan mendirikan SMK sehingga mereka tidak ada program PKL, sebab guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah manager perusahaan yang mempunyai kemampuan yang luar biasa. Sekolah dijadikan pusat reset produk oleh perusahaan tersebut, para manajer tersebut memilih jadi guru karena penghasilan mereka setahun 440.000.000 won
c. Setiap siswa disana tidak ada yang merokok sebab apabila merokok langsung "get out"
d. Tidak ada Ujian Nasional sebab kurikulum berpokus kepada kemampuan produktif/keahlian dan siap untuk kerja
e. bejar secara full day dan gratis makan

Itulah sekelumit cerita, kapan kita bisa seperti mereka...... .. padahal mereka bangkit pada tahun 1975an.

Perekonomian Korea

Perekonomian Korea Selatan sejak tahun 1960-an telah mencatat rekor perkembangan yang luar biasa. Perkembangan ini terutama ditentukan lewat integrasi negara ini kepada perekonomian dunia yang modern dan berteknologi tinggi. Saat ini pendapatan perkapita Korea Selatan telah setara dengan pendapatan negara-negara Uni Eropa.

Selama kurun waktu 1980-an, Korea Selatan mengadopsi sistem kedekatan antara sektor pemerintahan dan bisnis yang termasuk juga kredit yang terarah, pembatasan impor, dan pensponsoran industri-industri khusus. Pemerintah Korea Selatan mendorong impor bahan-bahan baku mentah dan teknologi dengan mengorbankan barang konsumtif serta mendorong masyarakat untuk menabung dan melakukan investasi.

Namun demikian, seiring dengan gelombang krisis ekonomi yang melanda Asia, Korea Selatan tidak terkecualikan sebagai salah satu negara yang terkena krisis. Rasio hutang yang tinggi, pinjaman yang tinggi, serta ketidakdisiplinan sektor ekonomi telah menjatuhkan perekonomian Korea Selatan pada tahun 1998.

Setelah empat tahun berada dalam pengobatan yang dilakukan oleh IMF, perlahan perekonomian Korea Selatan meningkat kembali secara gradual. Dituntun oleh pengeluaran konsumsi serta peningkatan ekspor yang signifikan, pada tahun 2002 Korea Selatan mencatat perkembangan perekonomian yang ditandakan oleh peningkatan GDP sebesar 7 persen yang juga menandakan kelulusannya dari program dan pengawasan IMF. Korea Selatan telah membayar kembali sisa pinjamannya sebesar US$ 19,5 milyar, dua tahun lebih cepat dari perkiraan semula. Antara tahun 2004 – 2007, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4-5 persen.

Pada tahun 2005, pemerintah membuat proposal tentang pengesahan reformasi kaum buruh dan skema dana pensiun perusahaan untuk membuat pasar tenaga kerja lebih fleksibel. Pemerintah juga memperkenalkan kebijakan real-estate untuk mendinginkan spekulasi yang dibuat oleh sektor properti. Perkembangan yang positif ini dibarengi dengan berbagai upaya restrukturisasi di sektor keuangan, korporasi dan publik. Pemulihan ekonomi Korsel yang berlangsung cepat tersebut sebagian besar juga didukung dengan penerapan kebijakan suku bunga yang rendah dan stabilisasi pasar domestik. Kebijakan ini pada gilirannya mendorong iklim investasi dan permintaan domestik.

Secara umum, perekonomian Korea Selatan lewat ditandai lewat tingkat Inflasi yang moderat, tingkat pengangguran yang rendah, surplus dari ekspor, dan pendistribusian pendapatan yang merata. Semua ini menandakan solidnya perekonomian Korea Selatan.

Jumat, 05 Maret 2010

SHILLA'S RISES

Faced with threats from its neighboring states, Baekje and Goguryeo, as well as from the Japanese across the sea, the Shilla kingdom's development was delayed more than its more established neighbors. From the time of Kim Naemul and the generations that followed, however, the Shilla kingdom gradually became better organized as a more solidified state society with a strong central authority. As a result of this, in the later half of the fifth century, post stations and markets were established in the kingdom. Upon the completion of a transition into a truly centralized state society, Shilla became a real contender for power on the Korean peninsula and Northeast Asia.

The Shilla-Baekje Alliance

In response to the threat of the powerful Goguryeo kingdom, the Shilla monarchs kept their ties with the Baekje kingdom strong. The more tensions there were between Goguryeo and Shilla, the closer Baekje and Shilla became. An alliance was formed between Baekje and Shilla in 433 CE and in the second half of the 5th century CE, the Shilla kingdom became independent from Goguryeo's political influence. Marriage ties were also established between the two allied kingdoms. This alliance lasted for over a century and prevented the powerful Goguryeo kingdom from successfully conquering the southern half of the Korean peninsula.

Economic and Administrative Advances

In the early sixth century CE, Shilla's agriculture and economic base became better developed. During the reign of King Jijeung 지증왕 (r. 500-514 CE), the ox plow was used among Shilla peasants and irrigation projects were carried out. The Chinese-style title of "wang" 왕, which meant "king," was adopted to refer to the rulers of Shilla as the monarchy adopted Chinese-style political institutions and bureaucratic systems. As in its neighboring kingdoms, consorts for the Shilla royal line came from a single major clan; the Bak 박 clan women became the queens of the kingdom. By the time of King Beopheung 법흥왕 (r.514-540 CE), a well-developed code of law was in place including the golpum 골품, or "bone rank," system that had its roots from the Saro chiefdom of Shilla's early days. Buddhism also became the state religion under Beopheung's reign and thus the kingdom technologically and culturally quickly caught up with its neighbors.

KINGDOM OF SHILLA

Whereas the kingdom of Goguryeo was heavily influenced by the Chinese since its conception, political influence upon the kingdom of Shilla was not as strong, as Shilla's heartland was in the southeastern part of the Korean peninsula. The site of the Shilla capital and the Shilla heartland was at the city of Gyeongju, now in Gyeongsangbuk-do. Traditionally theorized to have been founded in 57 BCE by Bak Hyeokgeose, the kingdom of Shilla included areas of present-day Gyeongsangbuk-do and Gyeongsangnam-do. Whatever the actual story behind Shilla's founding may be, it is known that the emergence of Shilla occurred within the area of modern Gyeongju when the villages of the Saro tribe joined together.

Due to conflicts with Goguryeo and the Japanese, however, Shilla's development was slowed from the start. However, this resilient kingdom eventually became powerful enough to resist foreign powers, annex neighboring lesser states, and even go as far as conquering the vast majority of the Korean peninsula while driving out the mighty Chinese Tang Dynasty.

Shilla is famous for its "Hwarang" (variously translated as Flower Men or Flower Knights) corps, which consisted of elite youths trained in both court arts and martial arts that were influenced by Confucian, Buddhist, and Daoist philosophy.

Kerajaan Shilla

Silla diperintah oleh 3 keluarga (klan) kuat selama berdirinya, yaitu Bak (Park), Seok, dan Kim. Klan Bak sebagai pendiri berkuasa lebih dari 3 generasi sebelum menghadapi pemberontakan oleh klan Seok. Dalam masa-masa pemerintahan pertama raja keluarga Seok, Raja Talhae, klan Kim berperan sebagai klan aristokrat (bangsawan). Ketiga klan ini saling berebut kekuasaan sepanjang sejarah
Pendirian.

Dalam masa Proto Tiga Kerajaan (masa sebelum Tiga Kerajaan), negara-negara kecil di bagian tengah dan selatan semenanjung Korea dikelompokkan ke dalam 3 konfederasi (negara bagian) bernama Samhan. Salah satunya bernama Jinhan yang memiliki 12 buah bagian-bagian yang lebih kecil. Salah satunya adalah negeri Saro (Saro-guk) yang merupakan asal dari Silla. Negeri Saro terbagi atas 6 desa dengan 6 kelompok klan.
Berdasarkan babad Goryeo Samguk Sagi yang ditulis pada abad ke-12, Silla didirikan oleh seseorang bernama Bak Hyeokgeose tahun 57 SM di kota yang sekarang adalah Gyeongju. Menurut legenda Bak Hyeokgeose lahir dari telur kuda putih. Ketika berusia 13, ke-6 kelompok klan mengangkatnya jadi pemimpin negeri Saro.
Pembuktian lewat bukti arkeologis menunjukkan bahwa walau ada negara yang berdiri pada masa itu di wilayah Gyeongju, masih terlalu dini untuk menyebut Silla sebagai sebuah kerajaan. Penulis Samguk Sagi dari zaman Goryeo, Kim Bu-shik, mungkin mencoba untuk mengesahkan bukti berdirinya Silla dengan memberi senioritas historis di atas rivalnya, Baekje dan Goguryeo.

Sejarah awal
Dalam masa kekuasaanya, tampuk kepemimpinan Silla berganti-ganti dengan peran 3 klan terkuat.
Mulai abad ke-2 M, Silla baru muncul sebagai kerajaan yang berkembang pesat di bagian tenggara semenanjung Korea. Silla memperluas kekuasaan dan pengaruh atas Konfederasi Jinhan pada abad ke-3 dan terus menjadi kuat.
Di bagian barat Baekje telah berdiri kokoh sejak tahun 250 setelah menundukkan Konfederasi Mahan. Di bagian barat daya, Konfederasi Gaya muncul dan mengambil alih Konfederasi Byeonhan. Sementara di utara, Goguryeo yang sejak tahun 50 mulai berdiri kokoh, berhasil mengusir perwakilan militer Tiongkok terakhir dari semenanjung Korea pada tahun 313 dan terus mengancam para tetangganya.

Berkembang jadi kerajaan
Raja Naemul (berkuasa 356-402) dari klan Kim menetapkan sistem monarki yang turun-temurun. Gelarnya kini telah menjadi Maripgan (han atau gan), yaitu gelar serupa dengan khan pada orang Turkik dan Mongol. Pada 377, ia mengirim utusan dan menjalin hubungan dengan Goguryeo.
Silla mencoba mendekati Goguryeo karena sedang mengalami tekanan dari Baekje dan Negeri Wa[1]. Namun saat Goguryeo mulai memperluas teritori ke selatan dan memindahkan ibukotanya ke Pyongyang tahun 427, Raja Nulji mencoba mengadakan persekutuan dengan Baekje.

Pada masa Raja Bopheung (514-540), Silla telah mencapai titik penuh sebagai negara kuat. Ia pun telah menggunakan Buddhisme sebagai agama negara dan mengendalikan negara-negara kecil di sekitarnya. Sekitar tahun 530-an Konfederasi Gaya dapat ditaklukkannya.

Pada masa Raja Jinheung (540-570), Silla mengembangkan armada perang yang kuat. Ia pernah membantu Baekje merebut wilayah Sungai Han yang diduduki Goguryeo namun pada tahun 553 merebut wilayah itu dari Baekje, mengakhiri 120 tahun aliansi kedua kerajaan itu. Peiode awal Silla berakhir dengan wafatnya Ratu Jindeok pada tahun 654.

Kamis, 18 Februari 2010

The Three Kingdoms

Pre-20th Century

??- 57 B.C.: Evidence of inhabitants in Korea from as early as 4000 BC exists in Korea. Legend has that the man-god Tan Gun founded the Joseon (meaning Land of the Morning Calm) Kingdom in 2333 BC. Almost no centralized communities existed from then until three kingdoms emerged in the 1st century BC.


57 B.C. - 668 A.D.: The Three Kingdoms of Silla, Goguryeo, and Baekje had similar ethnic and linguistic backgrounds. Koguryo occupied the northern part of the peninsula from the Chinese border to the Han River, while Silla and Baekche dominated the southern regions. All three kingdoms were heavily influenced by China, and Buddhism was introduced to Koguryo in 372. Various alliances were formed either with or against the Chinese until 660 when Silla allied with China to overthrow Baekje. Goguryeo fell shortly afterwards in 668.


668 - 935: The Silla Kingdom period marked the start of Korea's cultural development. Buddhism expanded and furled the construction of numerous temples and art works. However, despite Chinese influences, Silla remained largely tribal in culture. Society divided into distinct classes with a large semi-slave population supporting an aristocratic minority. Warlords began amassing power bases to the north and eventually took over Silla and founded a new kingdom- Goryeo.

918 - 1392: Korea's English name was derived during the Goryeo period. At this time the government codified the laws and introduced a civil service system. During this time Buddhism flourished and spread throughout the peninsula. Like other kingdoms before it, Koryo was also subject to internal strife and external threats, most notably from the Mongols who had taken over China. In 1231 the Mongols invaded Korea, forcing the royal family to flee to Kanghwa Island near Seoul. After 25 years of struggle, the royal family finally surrendered. The following 150 years saw continued Goryeo rule, but under the control of the Mongols. As the Mongols declined in power, so too did Goryeo. In 1392 a Korean general, Yi, Song-gye, was sent to China to campaign against the Ming rulers. Instead, he allied himself with the Chinese, returned to overthrow the Korean king, and setup his own dynasty. During this time, Korea also perfected the art of celadon pottery.

1392 - 1910 The ruler of the Yi Dynasty (also known as the Joseon Dynasty) moved the capital to Hanyang-gun (today's Seoul) in 1394 and adopted Confucianism as the country's official religion. As a result, Buddhists lost much of their wealth and power. It was during this period that the Korean alphabet, Hangeul, was invented by King Sejong the Great. This period also had its share of external problems, suffering invasions by the Japanese (1592-1598) and the Manchus (1627-1636). With the arrival of Japanese and Western traders in the 19th century, the Korean rulers tried to prevent the opening of the country to foreign trade by closing the borders, earning Korea its nickname of the Hermit Kingdom. Beginning in 1876, the Japanese forced a series of Western-style trade agreements on Korea, leading to Japan's eventual annexation of the country in 1910. Due to growing anti-Japanese sentiment, in 1897 King Kojong declared himself to be emperor of the Taehan Empire, an independent Korea. However, during the Russo-Japanese War (1904-1905), Japanese forces moved onto the peninsula, despite Korean declarations of neutrality. The signing of the Japan-Korea Protection Treaty in 1905 gave Japan virtual control over Korea, and in 1910 a Korean royal proclamation announced the annexation by Japan.

Minggu, 14 Februari 2010

Korean Family Life

KOREAN FAMILY LIFE
Fathers and grandfathers are the main authority figures in Korean families. This has been true since the official adoption of neo-Confucianism as the state philosophy at the beginning of the Choson period, around A.D. 1400, and it reflect the historic pattern of patriarchy in East Asian culture. Children, in return, are required to practice “filial piety”. Filial piety (Korean:Hyo) begins the fact that people are eternally indebted to the parents who give them life, nourish them as helpless infants, protect and provide for them in childhood, and show them how to become good human beings. During childhood people acquire an appreciation for the family heritage that is being handed down to them from previous generation through their parents. They learn that as adults they will be responsible for maintaining and preserving the family heritage and for passing it along to their own future children. They understand that they are part of a network of relatives, with duties and obligation to everyone else in the family. They also realize that they can call upon their family for support throughout their lives. The obligations are mutual and operate as a important source of identity and emotional security.

The idea of filial piety is so pervasive in Korean culture that the language itself is structured to reflect the junior-senior relationship of the parties in any given conversation. A younger person will attach “honorific” elements to sentences to show his or her respect to a parent, teacher or boss. Throughout every day, people are constantly figuring their relative position and adjusting the way they speak accordingly. Filial piety is thus the model for almost all social relationship in Korea.

Korean accept filial obligation as part of life. The obligations set the patterns for getting along with other people and make it easier to know how to act in daily situations. Everyone agrees that parents have a duty to their own ancestors to be wise and benevolent toward their children. Everyone also agrees that that it’s the children’s duty to obey their parents and to repay them with loyalty and sincere effort. In relationship outside the family, people also understand how to behave toward others who are above or below them on the social scale. The idea of filial piety is a model for all these relationships as well.

Today, when most Koreans live in cities, there is much nostalgia for the days when farming household often consisted of grandparents, parents and children generation under one roof. There was no old age insurance or social security system, so different generations of a family took care of each other.

City life has changed that, and in today’s high-rise apartment buildings there is little to compare with the social interaction that was so much a part of Korean village life. Nor there is the space. Korean farmhouses were never roomy, but it was easy enough to step outside into the porch, or into the yard. Elderly people nowadays find it boring to be cooped up in apartments with elevators that can only take them down to traffic-choked streets where there is nothing to do but shop. Now that there is medical insurance and a certain amount of old age pension support, older Koreans often opt for their own apartments and live apart from their adult children for as long as they can. In this respect modern urban life in Korea resemble life in the United States.


Dalam keluarga Korea, Ayah dan kakek merupakan seseorang yang berwenang terhadap keluarga. Hal ini terlihat sejak periode raja Cheoson. Anak-anak di keluarga Korea selalu dibiasakan berdiskusi dengan orangtua mereka. Mereka membicarakan bahwa anak-anak sangat berhutang budi terhadap orangtua yang telah memberikan mereka kehidupan, merawatnya saat bayi, melindungi dan memberikan masa kecil yang menyenangkan. Hal itu dilakukan agar anak-anak mereka tumbuh menjadi seseorang yang baik. Sejak kecil anak-anak belajar menghargai warisan budaya dari generasi terdahulu sebelum orangtua mereka, mereka akan mengajarkannya kembali pada keluarga mereka dimasa mendatang. Mereka mengerti bahwa mereka adalah bagian dari keluarga, ini sangat penting untuk identitas dan emosional mereka.

Orang yang lebih muda mengucapkan sebutan kehormatan jika berbicara, itu untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada orangtua, guru, atau atasan. Begitulah hampir semua hubungan sosial di Korea.

Korea menerima kewajiban seorang anak sebagai bagian dari kehidupan. Itu diperlukan untuk tahu bagaimana bersosialisasi dengan orang lain dan tahu bagaimana harus berbuat. Setiap orang setuju bahwa orangtua mempunyai kewajiban kepada leluhur mereka untuk bijaksana dan baik kepada anak-anak mereka. Semua orang juga setuju bahwa anak-anak mempunyai kewajiban untuk mematuhi orangtua mereka. Dalam hubungan diluar keluarga, orang-orang juga mengerti bagaimana bersikap kepada orang lain yang lebih tua atau yang lebih muda dari mereka dalam status sosial.

Sekarang ketika mereka tinggal di perkotaan, mereka hanya bisa mengenang saat-saat ketika kakek, nenek, orangtua, dan anak-anak tinggal bersama dalam satu atap. Kakek dan nenek mengasuh cucu mereka dan melihat cucunya saat mulai belajar berjalan. Kakek biasanya pergi keluar untuk menemui sespuh desa atau kadang-kadang minum dikedai minuman.

Kehidupan di kota telah merubah semua itu, bangunan napartemen disana sangat kecil jika dibandingkan dengan kehidupan sosial di desa. Sekarang orang yang sudah tua merasa bosan karena hanya bisa mengurung diri di dalam apartemen dengan lift yang hanya bisa membawanya turun ke jalan dimana disana tidak ada yang bisa dilakukan kecuali belanja. Mereka merasa kerepotan dengan perubahan dari kehidupan di desa dengan kehidupan di kota. Keadaan ini mirip dengan kehidupan di AS.


Sumber : buku Culture And Custom of Korea dengan terjemah ala kadarnya dari saya